‘TAWUR SEGO’ DAN ‘KEBO MARCUET’ MERIAHKAN TRADISI APITAN DESA KEBONSARI

KEBONSARI – Tradisi merupakan kebiasaan yang dihormati dan masih dilaksanakan sejak dahulu sampai saat ini. Salah satu tradisi yang hingga kini masih dipertahankan masyarakat desa Kebonsari adalah sedekah bumi atau apitan.

Makna filosofis dari Sedekah Bumi itu adalah manusia tercipta dari tanah yang merupakan bagian dari unsur bumi, kemudian hidup juga di atas bumi, makan dan minum dari tetumbuhan juga makhluk yang mengkonsumsi unsur tanah, dan kelak saat manusia matipun akan kembali ke bumi.

Sehingga perlu keselarasan dan harmoni antara manusia dengan bumi sebagai ruang yang ditinggali manusia itu sendiri. Sedekah bumi atau apitan menjadi sarana syukur terhadap limpahan nikmat atas hasil bumi, hasil panen masyarakat desa Kebonsari selama setahun ini sekaligus sebagai kultur warisan leluhur dan kecintaan warga terhadap kearifan lokal yang harus tetap dilestarikan.

Sebutan Apitan sendiri berdasarkan pada bulan Apit yang posisinya berada di antara dua hari raya besar Islam yaitu hari raya idul fitri di bulan syawal dan hari raya idul adha di bulan Besar (Dzulhijjah). Karena diapit (kecepit) dengan dua hari raya besar inilah yang membuatnya disebut bulan Apit dan Tradisi sedekah bumi juga sering disebut Apitan.

Tidak jelas siapa yang memulai tradisi ini, namun diyakini mulai dikenalkan pada masa penyebaran Islam di Tanah Jawa oleh para Wali Songo sekitar 500 tahun yang lampau.

Tradisi apitan pada umumnya diisi dengan pagelaran wayang kulit, kethoprak dan kesenian lainnya, selain sebagai sarana hiburan bagi warga hal ini juga sebagai bentuk pelestarian budaya jawa yang dimulai oleh Sunan Kalijaga kala berdakwah dengan Wayang kulitnya.

Tahun 2019 ini rangkain acara Apitan desa Kebonsari diawali dengan tahlilan dan doa bersama di halaman rumah mbah lurah Karsidi yang dihadiri seluruh perangkat desa, lembaga desa tokoh masyarakat, tokoh agama, undangan dari Kecamatan, Polsek dan Koramil Dempet serta seluruh warga desa Kebonsari.

Ada yang unik dalam tradisi apitan desa Kebonsari yakni tradisi ‘Tawur Sego’ (Perang Nasi), dimana usai tahlil dan do’a bersama dua kelompok warga saling berhadapan dan saling menyerang dengan melempar nasi yang sebelumnya dibawa. Bukannya terpancing emosi karena di lempar nasi pihak yang saling berhadapan ini justru saling tertawa sehingga terlihat sekali kerukunan dan kekraban diantara mereka. Entah sejak kapan ‘Tawur sego’ dalam apitan desa kebonsari ini berawal namun tradisi ini sudah turun temurun sejak dahulu.

 

“Tidak tahu sejak kapan namun tawur sego ini sudah sejak dulu kami lakukan, kami warga desa Kebonsari berharap desa Kebonsari semakin makmur dan sejahtera.” Ujar salah satu pemuda dengan tubuh penuh nasi menempel di badan setelah mengikuti tawur.

Usai doa dan makan bersama, rangkain acara apitan dilanjutkan dengan pentas wayang kulit dan puncak acara pada malam harinya dengan pagelaran Ketoprak Wahyu Ngesti Utomo dari Blora dengan lakon Kebo Marcuet.

“Kebonsari terbagi dalam dua wilayah yakni Kebonsari dan dukuh Ngacir jadi untuk tradisi apitan kita laksanakan selama dua kali, untuk Kebonsari tahun ini menampilkan ketoprak Wahyu Ngesti Utomo dari Blora dengan lakon Kebo Marcuet, sedangkan seminggu selanjutnya di dukuh Ngacir juga dengan ketoprak yang sama namun dengan lakon yang berbeda. Harapan kami dengan tradisi ini warga desa kami senantiasa diberikan kesehatan, keamanan ketentraman dan limpahan rejeki sehingga Kebonsari semakin menjadi desa yang makmur dan sejahtera. Terang Mbah Lurah Karsidi.” (Ipung).

About kebonsari 34 Articles
Kebonsari adalah nama desa yang terletak di Kecamatan Dempet Kabupaten Demak Propinsi Jawa Tengah.

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan